CERPENKU: MESKI AKU HARUS TERLUKA KARENAMU!

MESKI AKU HARUS TERLUKA KARENAMU!






CERPENKU: MESKI AKU HARUS TERLUKA KARENAMU!






Kisah ini berawal dari anak-anak yang sangat periang. Dulu ada seorang anak bernama Kiki berteman dengan seorang wanita yang bernama Putri. Semenjak kecil mereka selalu bersama tanpa ada perasaan yang mungkin membuat mereka terluka. Mereka menjadi sahabat semenjak kecil, namun hal tak terduga yang mucul adalah Kiki mulai menyukai Putri. Mereka selalu riang dan bersama, mereka sangat bahagia tanpa ada luka. Saat itu mereka tinggal disebuah desa yang damai, nyaman dan indah, tentunya sawah adalah salah satu tempat bermain mereka semenjak kecil. Banyak tempat juga selain sawah yang selalu mereka kunjungi, yaitu sungai, taman bunga, bukit kecil dan tempat rumah kecil yang sering disebut saung.

Suatu hari mereka tumbuh dewasa, pada saat itu Kiki memetik bunga putih yang indah tentunya bunga indah itu diberikan kepada Putri yang saat itu berubah menjadi perempuan yang sangat cantik. Ketika itu mereka sedang berada rumah kecil yang disebut saung.

“Putri, ini untukmu!” ucap Kiki
“wah ini indah sekali, dari mana kamu mendapatkan bunga ini ki?” Tanya Putri
“aku memetiknya dari sebuah tempat yang sering kita kunjungi!”
“maksudmu taman bunga?”
“bukan! Tapi dibukit kecil itu, tempat dimana kita selalu menatap bintang ketika malam tiba!”
“wah serius aku menyukai bunga ini, terutama warna putih! Aku sangat menyukainya, terimakasih Ki!”
“iya sama-sama, ekh kamu sudah makan belum?”
“belum. Ibu akunya lagi gak tahu kemana jadi aku belum makan dari pagi!”
“kalau begitu aku akan mengambil makanan untukmu, jadi tunggu disini ok aku pasti akan kembali untukmu!”
“iya aku akan menunggumu!”

Kiki pergi mengambil makanan untuk Putri, ia secepat mungkin pergi untuk mengambilnya. Lalu ia sampai dirumah dan menyiapkan makanan dan pergi menemui Putri secepat mungkin. Namun hal tak terduga datang tiba-tiba Putri tidak ada disaung itu, hal ini membuat Kiki bertanya kemana Putri pergi. Namun dengan hati yang percaya ia menunggu Putri untuk kembali. Ia terus menunggu meski sekian lamanya. Hingga waktu berlalu setelah ia menunggu selama 3 jam penuh namun Putri tak kembali. Kiki pergi menemui Putri kerumahnya, ia berlari dengan kencang. Tiba disana pintu rumah Putri sudah terkunci rapat, tak ada seorang pun yang berada dirumah Putri. Melihat hal itu Kiki semakin panic hingga ia mencari Putri kemana-mana. Dengan mengeluarkan air mata sambil berlari juga berteriak ia terus mencari Putri hingga ketempat yang mungkin ia bisa temukan. Ia mencari kesungai namun taka da, ia mencari ketaman bunga namun tak da, iya juga mencari kebukit kecil namun tak ada juga. Kiki merasa sedih dan lelah karena dimana-mana Putri tidak ada. Ia diam dan menangis dibukit kecil dengan mengeluarkan air mata kesedihan yang begitu mendalam. Kemudian ada seorang petani yang mengabari Putri pada Kiki yang sedang menangis.

“nak kiki!” teriak petani
“ada apa pak?”
“kenapa nak kiki bisa menangis? Apa karena Putri?”
“kenapa bapak bisa tahu? Dimana dia sekarang!!”
“saya melihat mobil putih lalu didalam mobil itu saya melihat Putri dan orang tuanya!”
“dimana mobil itu sekarang?? Dimana?????
“distasiun deket perbatasan desa!”

Tanpa berpikir panjang Kiki lari mengejar Putri menuju stasiun dekat perbatasan desa, ia berlari dengan kencang. Tiba disana ia melihat mobil yang akan melaju. Dengan mengeluarkan air mata dan teriakan “puutrriii!”, Kiki terus berlari. Namun terlambat bagi Kiki untuk mengejarnya karena mobil itu telah melaju. Hal tak terduga muncul yaitu Putri berteriak dari jendela mobil sambil melambaikan tangannya dan berkata “Kiki maaf aku pergi tanpa alasan, aku pergi menuju Jakarta! Aku harap kamu nyusul kesana dan aku akan menunggumu!”
Perpisahan dirasakan Kiki saat ini. Ia hanya bisa terdiam melihat kepergian Putri. Hal itu sangat memukul hatinya. Ia hanya bisa merelakan kepergian Putri dengan hati yang terluka.

4 tahun kemudian, Kiki tumbuh menjadi seorang yang begitu hebat. Ia berhasil menjadi seorang pengusaha beras diusia 20 tahun. Ia berhasil menjadi seseorang yang sukses dan berbakat dalam bidang bisnis beras. Tak hanya itu, ia tumbuh menjadi laki-laki yang dermawan dan selalu membantu banyak orang. Hal itu kemudian mengingatkannya akan masa lalu bersama Putri. Dalam benaknya ia ingin pergi menemuinya ke Jakarta. Akhirnya waktu itu tiba, Kiki pergi menuju Jakarta meski tak tahu alamat mana yang akan ia tuju, namun dengan perasaanya yang kuat pada Putri, ia tetap percaya akan menemukannya disana. Alhasil ia tiba dijakarta, kota yang penuh dengan keramaian dan keindahan. Ketika itu pada malam pesta taun baru Kiki mencari Putri. Disiang hari ia tidak bisa menemukannya dimanapun, hingga sore hari juga sama demikian. Malam tak terasa tiba, karena malam tahun baru suasana menjadi ramai namun kiki tetap mencari Putri. Ia terus mencari hingga malam sampai ia merasa lelah dan diam diantara keramaian orang yang sedang menyambut tahun baru dengan pesta kembang api. Kiki kemudian pergi kesuatu tempat yaitu hotel dan menyewa kamar paling atas. Ia beristirahat disana, lalu ia memutuskan untuk pergi ke atas tempat dimana tak seorang pun ada. Ia melihat kembang api dari atas yang meriah itu, ia menatap langit yang dihiasi kembang api dengan hati rindu. Hal tak terduga tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampirinya dan berkata “ maaf boleh aku ikut disini?”, melihat hal itu tanpa disadari Kiki mengenalinya bahwa ia adalah Putri.

“ka,kamu siapa?” Tanya Kiki
“maaf, jika kamu ingin tahu namaku setidaknya kamu perkenalkan dirimu ter…..”
“kamu putri??”
“da,dari mana kamu ta…”
“aku kiki! Teman masa kecilmu!”
“kamu jangan bohong, Kiki yang aku kenal dia sudah tiada!”
“a..apa maksudmu? Ini aku Kiki teman masa kecilmu dulu, kita pernah satu kampung main    ditaman bunga, bukit, sungai dan sa…..”
“diam!! Jangan seolah-olah kamu adalah temanku waktu dulu! Temanku sudah tiada semenjak dia tak mencariku lagi!
“apa yang kamu biacarakan? Aku mencarimu sekarang!!”
“tapi dulu tidak!!!!”
“putri??”
“jangan memanggil namaku, mulai sekarang kita tak memiliki ikatan apapun!

Tanpa ada yang menghalangi seorang wanita yang menjadi teman Kiki dulu kini pergi dengan sebuah alasan. Kiki pun terdiam akan hal itu, ia mengejar Putri yang pergi dari pandangannya. Ia mencari-cari lagi Putri sama seperti 4 tahun yang lalu ketika Putri pergi. Namun sayang Kiki kehilangan jejak Putri lagi, ia turun kebawah dan tanpa disengaja ia melihat photo Putri didinding. Diphoto besar itu tertulis “sang pemilik hotel ini!”.  Kiki menyadari bahwa pemilik hotel ini adalah Putri, ia tak hentinya merasa heran dan terkejut akan Putri yang sudah semakin berubah.

Keesokan harinya ia sadar bahwa Putri tidak mungkin lagi menjadi teman bahkan kekasih yang didambakan Kiki semenjak dulu. Ia memutuskan untuk memandang Putri dari jauh juga memperhatikan kesehariannya tanpa sepengetahuan Putri. Meski rasa sakit yang Kiki rasakan semakin dalam, namun ia menerimanya jika harus kehilangan Putri. Selama 1 minggu Full Kiki terus memperhatikan Putri dari belakang. Ia terus memperhatikan senyuman manisnya, sorotan mata yang indah dan wajahnya yang selalu menghiasi mimpi. Tak lama kemudian ia berpikir untuk menghampiri Putri yang kedua kalinya namun hal tak terduga mucul lagi bahwa Putri dibawa oleh seorang laki-laki yang tampan dan menarik. Ia bergandengan mesra dan terlihat jelas oleh Kiki. Putri pergi bersama laki-laki itu, namun ia hanya berpikir positif mungkin itu temannya. Untuk menghabiskan rasa penasarannya ia bertanya kepada salah satu karyawan dihotel itu.

“mba maaf boleh Tanya??’ Tanya kiki
“iya ada yang bisa saya bantu?”
“saya melihat photo besar itu, apa benar dia pemilik hotel ini?”
“oh tuan Putri, tentu saja dia adalah pemilik hotel ini, memangnya ada apa?
“apa dia sudah memiliki seorang kekasih atau pacar??”
“dia sudah menikah!”
“a,apa??? kalau begitu terimakasih mba!”

Mendengar hal itu hati Kiki semakin hancur, ia tak menyangka bahwa Putri telah menikah. Ia memahami kenapa Putri tiba-tiba menganggap Kiki telah tiada. Ia semakin mengerti dengan jelas.

Keesokan harinya Kiki menitipkan sebuah surat dan bunga indah warna putih untuk Putri pada seorang karyawan. Ia memutuskan untuk pergi pulang ke kampungnya, meski hatinya yang semakin luka dan luka tapi Kiki tetap bahagia karena Putri telah menjadi seseorang yang sukses dan memiliki suami yang lebih dari Kiki. Ketika Kiki keluar dari hotel, ia bertemu dengan Putri. Meski mereka bertemu namun mereka tak menyapa satu sama lain dan akhirnya Kiki pergi. Ketika putri masuk menuju hotel ia mendapatkan sebuah surat dan bunga dari karyawanya.
“maaf nyonya, ini ada titipan buat anda!” ucap sang karyawan.
“dari siapa?? Sambil membuka surat!

Putri terkejut akan isi surat itu, lalu ia membawanya kekantor untuk dibaca lebih lanjut. Ternyata itu adalah sepucuk surat yang dihiasi bunga warna putih indah dari Kiki. Ia membaca isi surat yang kiki tulis.

“Hay putri manis yang menyukai bunga putih! Apa kabar? Aku merindukanmu disini, ditempat kita tumbuh menjadi dewasa, bukit yang selalu kita pijak bersama untuk memandangi langit dan bintang, sawah yang menjadi tempat berlari bermain kita, sungai yang mengalir untuk kita selami dulu dan rumah kecil yang selalu disebut saung adalah tempat bermain dan berpisah kita dulu!, aku memberikan surat yang dihiasi bunga putih ini karena aku tahu kamu menyukainya, jujur aku mencintaimu sejak dulu namun aku tak mampu untuk mengungkapkannya, jadi aku hanya bisa memendam dan memandang wajahmu yang indah dari lubuk hatiku yang paling dalam.tapi kenyataannya kamu telah ada yang memiliki. Jadi semoga kamu bahagia dengan kekasihmu atau suamimu tapi aku berikan bunga ini sebagai tanda bahwa ini adalah hatiku jadi kamu jaga baik-baik hatiku ini yang menjadi symbol bunga indah. Kamu akan membawa hatiku kemanapun kamu mau meski aku telah tiada seperti apa yang telah kamu bilang ketika kita pertama bertemu akan tetapi jika kamu merindukanku maka kamu tau dimana aku berada .”

Putri membaca isi surat yang menyedihkan itu dengan mengeluarkan air mata dan penuh penyesalan. Ia kini kehilangan Kiki yang selalu mencintainya dan Kiki pergi dengan penuh kekecewaan dan kesedihan meski ia tulus merelakan kepergian Putri bersama orang lain.


Comments