ANTARA KEINDAHAN ATAU KESEDIHAN YANG
MENANTI
Seakan semua berlalu tanpa alasan.
Itulah yang ada dipikiran seorang Stevan. Ia selalu menjadi orang paling
menyedihkan. Karena dia selalu berada diambang kesendirian dan kesepian, dia
tidak memiliki kekasih atau seseorang untuk dicintainya karena ia selalu berada
dalam ambang kesendirian.
Suatu hari ia pergi sekolah dengan
menggunakan sepeda, ia mengayun dengan penuh semangat. Ia bermimpi bahwa suatu
hari nanti ia ingin menjadi seorang dokter. Namun ia tidak memiliki bakat dalam
ilmu pengetahuan alam, ia sebenarnya memiliki bakat dalam ilmu pengetahuan
social. Tak heran meski ia hanya memiliki bakat yang berbeda, ia tetap berada
dikelas ipa. Ia belajar dengan giat dan sungguh-sungguh tanpa setengah hati.
Pada saat itu ia sedang berada dibelakang sekolah pada jam istirahat, bersama
dengan teman baiknya mereka asyik ngobrol sambil bercanda bareng.
“kamu mau sampai kapan jomblo??” Tanya
teman Stevan yaitu Virmi
“gak tahu tuh, aku gak peduli mau jomblo
atau engga juga yang penting aku focus dulu!” jawab Stevan
“ya elahh, jangan gitu dong! Kamu juga
harus tetap nyari biar semangat hehe”
“ah engga ah, percuma nyari juga kalau
engga ada yang satu hati dengan aku!”
“ya kamu nyari aja perempuan yang
menurutmu bisa cocok denganmu!”
“ada sih vir tapi mungkin gak aku dapat
itu cewe?”
“hahaaa bisa aja bray, kenapa engga?”
“entahlah vir, aku gak yakin akan hal
itu karena aku bisa apa buat ngungkapkan perasaan sama dia!”
“coba aja dulu biar kamu engga
penasaranlah, tapi ngomong-ngomong siapa cewe yang kamu maksud itu?”
“ah ada pokonya!”
“katakana aja, siapa tahu aku bisa bantu
kamu!”
“iya deh, dia itu berada dikelas bahasa
vir, apa kamu tahu?”
“siapa namanya? Jujur sih aku kenal
semua anak ipa dan ips tapi untuk kelas bahasa aku hanya tahu nya sedikit.”
“oh gitu yah, tapi cewe yang aku sukai
adalah Elvira!”
“oh dia! Kalau dia aku tahu, dia cewe
teman baik saudaraku!”
“wah? Ko bisa, tapi apa mungkin aku bisa
dapatkan dia vir?”
“aku sih dukung kamu kalau sama dia biar
kamu engga galau karena jomblo tau!”
“iya deh terimakasih!”
Mereka kembali menuju kelas setelah
berbincang karena bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Dikelas Stevan belajar
dengan giat dan semangat agar dia bisa mencapai impiannya. Ia selalu berusaha
menjadi yang terbaik meski kemampuannya dalam bidang ipa tidak terlalu baik.
Seakan semua berada dalam ambang keindahan yang ia pikirkan karena tiba-tiba
Elvira wanita yang Stevan sukai datang menuju kelasnya disaat pelajaran sedang
serius. Alhasil akibat Elvira datang, konsentrasi Stevan menjadi berubah karena
ia terpesona akan kehadiran Elvira dikelasnya. Elvira datang untuk memberi
tahukan sebuah pengumuman tentang lomba puisi dan bernyanyi. Kesempatan Stevan
terbuka lebar karena puisi dan bernyanyi merupakan bakat yang ia miliki
sehari-hari. Waktu lomba itu hanya tinggal 2 minggu lagi, Stevan berencana
untuk mengikuti lomba tersebut. Ia menuju ruang bahasa untuk mendaftarkan diri
dengan secepat mungkin.
Stevan menemui Virmi dibelakang sekolah.
Ia ingin menceritakan tentang perlombaan yang harus ia ikuti. Virmi datang
menghampiri Stevan.
“ada apa sih ini waktunya pulang, kenapa
kamu ngajak aku kebelakang sekolah? “ Tanya Virmi
“iya maaf, tapi aku ingin kamu dengerin
sebentar ok!”
“iya deh aku dengerin, ada apa?”
“gini vir, 2 minggu lagi akan ada sebuah
perlombaan tentang puisi dan bernyanyi, kabetulan yang ngadain itu lomba adalah
anak bahasa juga yang sosialisainya adalah Elvira, jadi aku ikutan itu lomba
agar aku bisa menunjukan kemampuanku untuk Elvira!”
“oh gitu yah!, dia juga suka puisi ko
apalagi nyanyi!
“siapa? Elvira?”
“iya Elvira masa orang lain, bagus juga
kan kamu punya bakat dalam membuat dan membaca puisi apalagi bernyanyi!”
“iya Vir makanya aku ngasih tahu kamu
bahwa aku akan ikutan lomba itu!”
“nah, aku punya ide ??”
“ide apa? “
“kamu kan suka sama dia lalu kenapa kamu
tidak tembak aja dia pada saat audisi?”
“ya elah itu mah namanya gak mungkin!”
“hhahaha kenpa engga mungkin? Mungkin
aja bisa. Jadi maksud aku gini, kamu harus bisa membuat sebuah kata-kata yang
ditujukan untuk dia lalu kamu juga harus bernyanyi tentang perasan kamu sama
dia, apalagi jurisnya dia ko, aku jamin!”
“wah ide bagus tuh tapi beneran dia
bakalan yang jadi jurinya? Gimana kalau orang lain bukan dia?”
“ya elah aku jamin dia jurinya bukan
orang lain, liat aja nanti”
“ok deh aku percaya sama kamu Vir,
“nah gitu dong, tapi selagi masih ada
waktu dua minggu kedepan kamu harus bisa deketin dia bray!”
“ya elah mana mungkin bisa dalam dua
minggu Vir?”
“coba aja dulu deh jangan ngeluh, aku
punya alamat rumahnya jika kamu mau kamu samperin aja dia kerumahya!”
“ya elah gimana dengan orang tuanya?
Galak engga?”
“engga bray, aku tahu mereka bray!"
“ok deh aku akan ikut petunjuk kamu!”
“sip nih alamat rumahnya!”
Stevan mendapatkan sebuah kesempatan
yang berharga dalam mengejar cintanya. Ia mendapatkan dukungan dari teman
baiknya itu. Ia bergegas pulang kerumah setelah mendapatkan ide dari temannya
itu.
Stevan tiba dirumah, biasanya ia makan
siang terlebih dahulu namun saat ini ia masuk kedalam kamarnya untuk berpikir
lebih dalam lagi. Kemudian ia terbaring diatas kasur yang empuk sambil menatap
gambar yang berada dilangit-langit atap kamarnya. Ia terus merenungkan apa yang
harus ia lakukan sekarang. Hanya membutuhkan waktu 30 menit ia mendapatkan ide.
Ia membuat puisi yang benar-benar romantic untuk perlombaan. Hanya memerlukan
waktu 1 jam saja ia dapat membuat sebuah puisi yang romantic untuk perlombaan
nanti dan ia juga menyiapkan sebuah lagu untuk dinyanyikan. Tentunya lagu
romantic juga yaitu Geisha-Pilihan hatiku.
Sore haripun tiba. Ia berhasil membuat
puisi dan menyiapkan lagu yang akan dibawakannya hingga sore hari. Tanpa
disengaja ia melihat sepotong kertas yang bertuliskan alamat Elvira. Karena ia
mengingat apa yang telah Virmi berikan, ia langsung berencana untuk menemui
Elvira. Ia bergegas berangkat dengan menggunakan speda motor dan mencari tempat
alamat yang ia tuju. Akhirnya ia tiba dirumah Elvira yang terletak cukup jauh
dari rumha Stevan. Dengan memberanikan diri ia mengetuk pintu rumahnya dengan
perasaan yang tak menentu.
“asalamualaikum!” sambil mengetuk pintu
rumah
“walaikumsalam!” Elvira membuka pintu
rumah
“hay, Elvira!”
“hay tapi kamu siapa?” Tanya Elvira
karena merasa terkejut.
“aku Stevan dari kelas 12 ipa 1, kamu
Elvira yah dari kelas 12 bahasa 1?
“oh iya, kalau begitu silahkan masuk!”
Dengan perasaan yang penuh gemetaran
Stevan memberanikan diri untuk masuk kerumah Elvira meski ia dipenuhi dengan
perasaan takut. Kemudian mereka duduk.
“ iya ada datang kemari? Tanya Elvira
“hehe engga ada apa-apa ko, cuman mau
main aja!”
“oh gitu yah, kirain ada apa”
“maaf jika kehadiranku mengganggumu!”
“iya gak apa-apa ko lagipula aku lagi
nyantai aja!”
“iya deh sekali lagi aku minta maaf!”
“iya gak apa-apa, tapi aku merasa heran
aja sama kamu!”
“kenapa?”
“iya kita belum kenal tapi kamu bisa
berada dirumahku tanpa alasan!”
“kalau begitu kenalin, kita kenalan dari
sekarang! Aku …”
“iya kita udah kenalan kan tadi waktu
pertama bertemu didepan rumah?”
“ hehe iya iya! Tapi boleh aku nanya
gak?
“nanya apa?"
“apa benar kamu yang akan menjadi juri nanti
perlombaan puisi dan bernyanyi?
“iya aku dan teman aku yang akn menjadi
jurinya, memangnya kenapa?”
“hehe gak apa-apa, aku ikut lomba itu!”
“wah kamu ikutan lomba itu? Berarti kamu
jago dong dalam bernyanyi dan membuat puisi?
“hehe engga juga sih, aku gak terlalu
jago!”
“aku tunggu bagaimana puisi dan nyanyian
yang akan kamu tampilkan nanti!”
“iya kalau jelek jangan terkejut yah
hehehe!”
“haha aku pasti menyukainya karena aku
sangat menyukai baik buruknya sebuah sastra!”
“gitu yah, terimakasih !”
“tapi kamu tahu alamat rumahku dari
siapa?”
“temen sih hehehe maaf!”
“siapa? Teman satu kelas aku bukan?
“bukan, tapi kamu jangan marah yah jika
aku mengatakan siapa yang memberi tahu alamat rumahmu?”
“iya siapa?”
“dari Virmi teman aku!”
“ohh dia kirain siapa, kemana dia
sekarang?”
“kamu kenal sama Virmi?
“jelaslah kan aku udah lama temenan sama
dia malah dari kecil, kamu dekat sama dia?”
“iya deket banget, dia teman baik aku!”
“oh jadi begitu, kalau begitu ajak dia
kapan2 main kesini!”
“apa boleh aku main lagi kesini ?
“bolehlah, setiap hari juga boleh ko!”
Mendengar ucapan itu Stevan merasa
bahagia bahkan diam tanpa kata. Hatinya merasa ingin meledak dan ia tidak tahu
harus bicara apa lagi. Ia merasa bahagia hingga ia pulang kerumah dengan ekspresi
senyum. Tak hentinya ia merasa bahagia, ia mendapat kesempatan untuk
mendapatkan orang yang ia cintai.
Keesokan harinya disekolah Stevan
menceritakan semua kepada temannya yaitu Virmi. Dengan raut yang bahagia ia
membawa Virmi kebelakang sekolah dengan berlari sambil memegang tangannya
Virmi.
“hey hey ada apa ini??” Tanya Virmi.
“hehee sorry aku paksa kamu untuk aku
bawa kesini!”
“emangnya ada apa? tumben kamu bahagia
gitu?
“aku berhasil teman! Hahahaa”
“maksudnya berhasil apa ?”
“aku kemarin kerumahnya trus disambut
baik lagi!”
“kirain ada apa sih kamu, kan kata aku
juga gak bakalan kenapa-kenapa!”
“ternyata kamu benar juga, tapi katanya
kamu sudah berteman dengan dia sejak kecil apa itu benar?
“ya begitulah, tapi ayo masuk kelas ah
udah mulai telat nih jam pelajaran!”
“haha ok siap!”
Mereka kembali kekelas untuk mengikuti
pelajaran. Dengan penuh semangat dan bahagia Stevan belajar lebih semangat tak
seperti biasanya. Ia semakin semangat dan lebih aktif dikelas.
Jam istirahat berbunyi, dengan penuh
kebahagiaan pula ia menghampiri Elvira dikelas bahasa. Ia mencarinya kesemua
kelas bahasa. Akhirnya ia bertemu dengan Elvira dan mengahampirinya dengan
penuh hangat.
“hay Elvira!”
“hay, ekh kamu tumben kesini?”
“hehehe aku mau ketemu sama kamu, lagi
sibuk engga?
“engga ko, malah aku lagi nganggur!”
“kalau begitu ikut aku yuk ke kantin
sambil makan siang?
“boleh, ide bagus tuh aku juga lagi
lapar!”
“ok, aku traktir hari ini!”
“wah serius? Terimakasih!
Stevan dan Elvira semakin dekat dan
menjalin hubungan baik. Mereka asyik bersama sambil berbincang tentang semua
yang mereka ceritakan. Dalam satu minggu mereka menjadi semakin dan semakin
dekat bahkan perasaan cinta yang ada dalam hati Stevan semakin besar hingga ia
tak sabar ingin mengungkapkannya.
Dua minggu sudah, hari ketika perlombaan
akan dimulai. Semua sorak penonton semakin menghiasi dan menghangatkan suasana.
Stevan kembali bersiap-siap untuk tampil namun sayangnya ia berada dikontestan
peserta terakhir. Hal itu justru membuat Stevan semakin sempurna karena
memiliki waktu yang tepat untuk mengungkapkan.
Satu demi satu peserta telah berlanjut. Akhirnya
hari penantian Stevan akan dimulai dan kemudian ia tampil dipanggung dengan
juri Elvira dan temannya. Stevan tidak merasa gemeteran bahkan kacau diatas
panggung justrul ia merasa tenang dan santai. Sambil menatap wajah cantik
Elvira ia menghayati puisi yang ia bacakan.
Puisi Stevan :
Kuberlari
menghindari embun pagi
Namun
sang mentari membantuku untuk menghangatkannya
Aku
terpisu akan indahnya sebuah senyuman
Senyuman
yang sedang aku tatap saat ini
Begitu
sempurna seakan bintangpun tak mampu mengalahkannya
Aku
menatapmu dan aku terpaku olehmu
Karena
aku mulai mencintaimu
Sejak
mentari mulai menyinarimu
Disaat
aku sepi dan tak berarti
Kamu
mengubah duniaku menjadi segala hal yang bahagia
Aku
mencintaimu
Karena
aku menatapmu saat ini
Kamu
yang sedang memperhatikanku diatas panggung ini
Terlihat
tajam saat aku merasa tenang
ELVIRA!
Semua penonton terus bersorak mendengar
puisi romantic yang Stevan ucapkan. Hal itu jelas membuat Elvira merasa jatuh
cinta akan bagaimana Stevan membaca puisi. Tak lama kemudian setelah pembacaan
puisi, Stevan langsung membawa gitar dan mulai menyayikan lagu. “lagu ini aku
persembahkan untuk seseorang yang sedang berada didepan mataku!” ucap Stevan
sebelum bernyayi. Lalu ia memainkan dan memetik alunan nyanyian yang indah, ia
bernyayi begitu indah hingga penonton merasa kagum akan indahnya suara dan
alunan music yang Stevan mainkan. Bahkan Elvira mulai menyukai Stevan.
Tepuk tangan penonton semakin meriah dan
menghiasi perlombaan. Akhirnya Stevan keluar menjadi pemenang dari lomba
tersebut, lalu ia berencana menghampiri Elvira setelah perlombaan itu. Ia bermaksud
untuk menembak Elvira secara langsung. Ia mencari Elvira hingga ia merasa
kelelahan. Namun akhirnya juga ia menemukan Elvira yang sedang diluar gerbang
sekolah. Saat Stevan ingin menghampirinya, baru beberapa langkah ia terhambat
karena ada ada seorang laki-laki yang menghampiri Elvira tiba-tiba. Laki-laki
itu memeluk Elvira seakan dia adalah kekasih Elvira. Melihat hal itu Stevan
terdiam, ia tak bisa bergerak sedikitpun bahkan ia tak mampu berkata apapun. Yang
ada hanya menatap Elvira bersama laki-laki lain.
Akhirnya Stevan merasa sedih karena
ternyata cinta yang ingin ia miliki telah ada yang memiliki. Hal itu membuat
Stevan sakit hati dan kembali dengan raut wajah yang menyedihkan dan penuh luka
yang telah cintanya berikan.

Comments
Post a Comment